- Sebagai mahasiswa, pernahkah anda dipertemukan dengan tugas yang begitu menumpuk dan membuat kita mengerjakannya sampai berlarut-larut?
- Sebagai mahasiswa, pernahkah anda dibuat takut oleh dosen perfeksionis yang merobek tugas anda jika salah sedikit saja?
Hal itu kerap patik temui di Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) ini. Setelah kurang lebih 3 tahun berkuliah di sini, tugas sudah menjadi makanan pokok. Kita terus menerus disodorkan oleh tanggung jawab yang jika tidak kita kerjakan maka status Mahasiswa akan menempel lebih lama. Belum lagi tidak sedikit dosen yang menunggu di ujung jalan siap menghantam kita kembali jika melewati jalan yang salah.
Banyak Tugas ?
Ilmu Komunikasi UPI memiliki mata kuliah yang beragam. Mulai dari ilmu-ilmu dasar sampai keilmu-ilmu hitam tingkat advance. Dan kebanyakan tugas akhir dari setiap mata kuliah adalah observasi/praktik ke lapangan. Di awal perkuliahan kita akan dipertemukan dengan ilmu-ilmu pengantar dari Jurnalistik, Humas, Sosial, Politik dan Komunikasi. Walaupun ilmu pengantar, tetapi akan ada tugas-tugas yang mengantarkan kita menuju malam kelam selama 1 semester. Awalnya, banyak dari kita yang berpikir "Gue kira kuliah di IKOM bakal nyantai dan ngomong doang, gataunya banyak tugas juga"
Tapi seakan berjalannya waktu tugas-tugas itu tidak membuat kita tertekan, malahan kita menunggu akan kedatangan tugas selanjutnya. Karena tugas-tugas itu menyenangkan untuk dikerjakan. Seperti kita disuruh membuat tulisan yang berandai-andai kalau kita adalah Presiden di tahun 2045 dan akan membuat program apa untuk negara kita, lalu ada juga kita disuruh membuat Video Clip lagu Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa inggirs, dan kita disuruh membuat pameran fotografi di Fakultas kita.
Jadi tugas-tugas yang sebelumnya adalah pete dan jengkol kian lama menjadi buah dan ikan. Dimana pete dan jengkol tidak ada khasiatnya bagi otak kita, sekarang menjadi ikan yang memiliki DHA dan omega 3 dan buah yang memiliki antioksidan. Maksudnya ilmu yang berada di balik tugas-tugas tsb masuk ke dalam otak kita dan bukan hanya tugas belaka.
Dosen Killer ?
Dosen dari Ilmu Komunikasi UPI bisa dibilang perfeksionis. Mereka tidak menerima kesalahan apapun baik dari faktor internal maupun eksternal. Ada kala kita ditugaskan untuk membuat paper minimal 2 halaman kertas folio dan ditulis tangan. Kesalahan dalam tanda baca saja membuat tugas itu terbelah menjadi dua di tangan dosen kita, dan diharuskan menulis lagi. Hal itu sempat membuat kita merasa tertindas, tetapi setelah turun ke lapangan kita sadar kalau hal yang dilakukan dosen itu belum ada apa-apanya.
Dunia kerja akan lebih keras dari saat kita kuliah, diibaratkan dosen mencoret editor merobek, dosen merobek editor membuang, dosen mengusir editor memecat. Yang kita dengar dari beberapa pengalaman, hal itu sudah biasa dalam dunia jurnalistik. Jadi jika dikira Ilmu Komunikasi akan santai-santai saja ternyata tidak. Maka dari itu dosen dari Ilmu Komunikasi UPI telah mengasah mental kita mulai sedari dini untuk dipersiapkan di dunia kerja.
Ilmu Komunikasi UPI adalah tempat dimana patik belajar, belajar, dan belajar. Belajar dalam aspek apapun. Akademik maupun himpunan, solidaritas maupun integritas, pengetahuan maupun keterampilan. Tugas banyak dan dosen killer adalah suatu perangkat menuju pribadi yang matang akan bidang komunikasi.
Banyak Tugas ?
Ilmu Komunikasi UPI memiliki mata kuliah yang beragam. Mulai dari ilmu-ilmu dasar sampai ke
Tapi seakan berjalannya waktu tugas-tugas itu tidak membuat kita tertekan, malahan kita menunggu akan kedatangan tugas selanjutnya. Karena tugas-tugas itu menyenangkan untuk dikerjakan. Seperti kita disuruh membuat tulisan yang berandai-andai kalau kita adalah Presiden di tahun 2045 dan akan membuat program apa untuk negara kita, lalu ada juga kita disuruh membuat Video Clip lagu Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa inggirs, dan kita disuruh membuat pameran fotografi di Fakultas kita.
Jadi tugas-tugas yang sebelumnya adalah pete dan jengkol kian lama menjadi buah dan ikan. Dimana pete dan jengkol tidak ada khasiatnya bagi otak kita, sekarang menjadi ikan yang memiliki DHA dan omega 3 dan buah yang memiliki antioksidan. Maksudnya ilmu yang berada di balik tugas-tugas tsb masuk ke dalam otak kita dan bukan hanya tugas belaka.
Dosen Killer ?
Dosen dari Ilmu Komunikasi UPI bisa dibilang perfeksionis. Mereka tidak menerima kesalahan apapun baik dari faktor internal maupun eksternal. Ada kala kita ditugaskan untuk membuat paper minimal 2 halaman kertas folio dan ditulis tangan. Kesalahan dalam tanda baca saja membuat tugas itu terbelah menjadi dua di tangan dosen kita, dan diharuskan menulis lagi. Hal itu sempat membuat kita merasa tertindas, tetapi setelah turun ke lapangan kita sadar kalau hal yang dilakukan dosen itu belum ada apa-apanya.
Dunia kerja akan lebih keras dari saat kita kuliah, diibaratkan dosen mencoret editor merobek, dosen merobek editor membuang, dosen mengusir editor memecat. Yang kita dengar dari beberapa pengalaman, hal itu sudah biasa dalam dunia jurnalistik. Jadi jika dikira Ilmu Komunikasi akan santai-santai saja ternyata tidak. Maka dari itu dosen dari Ilmu Komunikasi UPI telah mengasah mental kita mulai sedari dini untuk dipersiapkan di dunia kerja.
Ilmu Komunikasi UPI adalah tempat dimana patik belajar, belajar, dan belajar. Belajar dalam aspek apapun. Akademik maupun himpunan, solidaritas maupun integritas, pengetahuan maupun keterampilan. Tugas banyak dan dosen killer adalah suatu perangkat menuju pribadi yang matang akan bidang komunikasi.



Keren diajarin ilmu hitam🌚
ReplyDeleteyoi makannya masuk ikom upi ada juga ilmu gendam
Delete