![]() |
| Sumber : Google |
Spotlight (2015) adalah sebuah film yang berhasil meraih 2 piala oscar untuk kategori Best Motion Picture of The Year & Original Screenplay. Singkatnya film ini menceritakan tentang perjuangan tim investigasi khusus bertajuk "Spotlight" dalam memecahkan kasus lama yang diangkat kembali tentang pelecehan seksual yang dilakukan oleh para pastor kepada anak-anak di bawah umur.
Untuk kalian yang memiliki minat dan tertarik pada dunia jurnalisme, film ini sangat cocok untuk menjadi referensi jurnalis yang baik dan benar sesuai etika dasar jurnalisme. Film ini memberikan gambaran kepada penonton cara dan kerja mengenai jurnalis yang kala itu sedang menguak kotornya salah satu organisasi Gereja Katolik di kota Boston, Massachusetts, Amerika Serikat.
Spotlight ini diangkat dari kisah nyata dengan nama media cetak yang sesuai dengan judul dan memenangkan penghargaan Pulitzer (penghargaan tertinggi dalam bidang jurnalisme cetak di Amerika Serikat)
Tim Spotlight
Salah satu media di Amerika, The Boston Globe membentuk suatu tim investigasi bernama Spotlight. Tim ini berfokus pada kasus-kasus besar yang penyelidikannya bisa memakan waktu yang lama, dan bekerja secara independen dan rahasia. Tim Spotlight ini terdiri dari 3 orang dan 1 editor, yaitu Mike Rezendes, Robby Robinson, Sacha Pfeiffer, dan Matt Carroll. Walaupun sebagai editor, Robby Robinson turut serta turun ke lapangan saat menyelidiki kasus. Masing-masing anggota memiliki tanggung jawab dan tugasnya masing-masing sebagai wartawan investigasi.
Setiap anggota memiliki sifat yang berbeda-beda tapi memiliki 1 kesamaan yaitu ulet. Mereka tidak ada bosannya terus menggali informasi dari narasumber secara mendetil, jika dirasanya informasi yang didapat tidak cukup maka mereka segera mencari narasumber lain.
![]() |
| Sumber: Google |
Cerita dimulai ketika pemimpin redaksi dari media The Boston Globe digantikan oleh Marty Baron. Dia menggubrak tim spotlight dengan gagasannya untuk membuka kembali kasus lama yang sudah ditutup yaitu kasus pelecehan seksual yang dilakukan oleh Pastur selama 30 tahun sampai tahun 2001.
Perdebatan dimulai dari para wartawan lain dan tim spotlight yang kurang percaya pada Baron dalam menentukan suatu kasus. Dari beberapa opsi kasus besar yang diberikan kepada Baron ia lebih memilih kasus lama yang sudah terbengkalai karena menurutnya ini bisa menjadi kompor panas. Tapi dengan landasan yang kuat Baron dapat meyakinkan para wartawan dan tim spotlight untuk mengangkat kembali kasus tersebut.
Tahap - Tahap Investigasi
Pemimpin Redaksi yang baru, Baron membantah pemikiran semua wartawan di The Boston Globe dalam rapat membahas penentuan kasus. Ia lebih memilih kasus pelecehan seksual terhadap anak-anak oleh Pastor Geoghan yang sudah terkubur 30 tahun lamanya tanpa ada tindak lanjut dari pihak media. Dan kasus itu muncul kembali secara tidak terduga yang membuat tim Spotlight harus bisa keluar dari kebuntuan kasus tersebut.
Dalam menentukan kasus yang harus diinvestigasi, terkadang bisa sangat mudah dan bisa juga tidak terduga. Kasus investigasi tidak harus selalu mengenai kejadian yang baru-baru terjadi, bisa juga kasus lama yang diangkat kembali. Yang penting kasus yang dipilih harus mengandung nilai-nilai kepentingan dan manfaatnya untuk masyarakat luas.
2. Pencarian data-data atau
dokumen
Tim Spotlight berusaha menggali informasi dari arsip-arsip berita puluhan tahun silam yang berada di Gudang Arsip The Boston Globe. Dari arsip-arsip tersebut ditemukan nama-nama pastor lain yang juga pernah melakukan tindakan tidak senonoh terhadap jamaatnya. Tidak hanya itu, tim Spotlight juga berhasil mendapatkan nama Phil Salviano. Phil Salviano merupakan seorang pengurus dari organisasi Survivors Network of those Abused by Priests (SNAP).
Perpustakaan juga menjadi tempat alternatif bagi tim Spotlight dalam mencari informasi. Halaman-halaman yang dicari mengarah pada nama pastor yang diduga melakukan pencabulan. Dan didapatkan 87 nama pastor yang diduga melakukan pencabulan.
3. Pencarian subjek dalam
kasus
Garabedian adalah langkah pertama tim Spotlight dalam mendapatkan informasi. Garabedian adalah seorang pengacara yang pertama kali menyatakan dugaan terhadap Uskup Besar Boston.
Awalnya tim Spotlight mengalami kesulitan dalam menggali informasi melalui Garabedian karena ia memilih untuk bungkam. Tetapi Rezendes terus menerus menemui Garabedian dan berusaha meyakinkannya kalau The Boston Globe dapat membantunya. Pada akhirnya usaha Rezendes tidak sia-sia karena Garabedian bersedia membantu dengan mempertemukan Rezendes dengan salah satu kliennya yang menjadi korban pelecehan oleh salah satu pastor.
Melalui Phil Salviano, tim Spotlight mendapatkan informasi bahwa ia mengetahui setidaknya ada 13 pastor yang telah melakukan aksi pencabulan. Akan tetapi tim Spotlight tidak menelan mentah-mentah pernyataan tersebut. Mereka melakukan verifikasi dengan memeriksa buku tahunan gereja edisi 1981 hingga 1998 yang berisikan data setiap pastor di Massachusetts.
Tim Spotlight juga mendapatkan informan seorang ahli psikiatris yang menangani pastor-pastor bermasalah. Ia mengaku bernama Richard Sipe, ia telah melakukan penelitian selama 30 tahun terkait dengan fenomena pencabulan yang dilakukan oleh pastor. Richard Sipe menyimpulkan berdasarkan hasil penelitiannya terdapat 6% dari total pastor di Boston yang melakukan pelecehan seksual. Diketahui terdapat 1.500 pastor di Boston, maka hitungan matematikanya, 6% dari 1.500 adalah 90.
![]() |
| Sumber: Google |
Teknik Wawancara
Dalam proses investigasi, wawancara menjadi aspek penting yang tidak bisa dihindari. Dalam kasus ini, tim Spotlight melakukan wawancara dengan para pastor, korban, serta pengacara selaku pihak ketiga. Dengan menganalisis film ini, terdapat beberapa macam teknik wawancara yang digunakan oleh tim Spotlight dalam menggali informasi, diantaranya :
Wawancara Langsung (Tatap Muka)
Para korban dan pelaku serta pihak ketiga sesegera mungkin diwawancarai untuk meminta kejelasan mengenai kasus pelecehan seksual ini. Di dalam film, terdapat salah satu korban Joe Crowley yang terlihat takut untuk diwawancarai. Tetapi Sacha Pfeiffer sebagai wartawan yang handal meyakinkan Joe secara personal dengan memberikan pernyataan meyakinkan untuk tidak ada yang perlu ditakuti. Dan akhirnya Joe mau memberikan kesaksiannya kepada Sacha.
Selain wawancara (dimana sang wartawan dan narasumber harus make an appointment, wartawan bisa juga mendatangi alamat rumah narasumber. Dalam film ini, Sacha dan Mike saling mendatangi rumah narasumber karena si narasumber enggan untuk bertemu di tempat umum.
Wawancara Melalui Telepon
Terkadang jarak dapat memisahkan wartawan dengan narasumber, sehingga alternatifnya adalah melakukan wawancara melalui telepon. Sebenarnya model wawancara ini dinilai kurang efektif karena tidak dapat mengetahui mimik dan ekspresi wajah si narasumber. Dalam film ini, Rezendes melakukan wawancara melalui telepon dengan Richard Sipe, karena Richard Sipe sedang berada di bawah pengawasan para pengurus gereja.
Setelah melakukan investigasi berbulan-bulan tim Spotlight
mendapatkan bukti atas bobroknya sitem Keuskupan di Boston. Tetapi tim Spotlight
tidak gegabah untuk segera mempublikasikan skandal tersebut. Mereka masih tetap
melakukan cek and recheck kepada
para korban dan saksi. Hingga pada akhirnya, Spotlight rampung meliput kisah 70
pastor. Tidak berhenti sampai di situ, meski sempat terjadi perbedaan
pendapat antara anggota tim Spotlight perihal waktu penerbitan berita tersebut,
mereka masih tetap berusaha memastikan ulang terkait keabsahan kasus itu.
Robby selaku pemimpin rubrik investigasi tim Spotlight
bersikeras untuk menahan penerbitan skandal ini sebelum benar-benar mendapat
verifikasi dari pihak gereja atas nama-nama pastor yang mereka dapatkan.
Berbekal kedekatannya dengan Jim Sulivan (pengacara pihak gereja), Robby
berhasil membuat Jim memverifikasi nama-nama pastor yang diduga melakukan
tindakan tidak terpuji itu.
Berakhir sudah
investigasi tim Spotlight dalam menguak kebusukan pastor-pastor dan sistem
gereja . Walaupun sempat tertunda beberapa pekan karena insiden 9/11 yang
terjadi di New York, pada awal tahun 2002 akhirnya The Boston Globe menerbitkan
berita perihal skandal besar yang melibatkan instansi tua dan terpercaya di
dunia.
Film ini mengingatkan kita bahwa jurnalis adalah orang yang
berada di lapangan untuk memperoleh data. Selalu melakukan verifikasi dan
melakukan pengecekan berulang terkait informasi yang didapatkan. Seberapapun
sulitnya mengejar narasumber, namun Spotlight selalu berusaha demi mendapatkan
fakta yang diperlukan.
Terlebih lagi, film ini kembali memberikan gambaran atas
prototype jurnalis yang identik dengan pena dan memo. Semua wartawan dalam film
ini selalu dengan seksama mencatat setiap informasi yang didapatkannya dari
narasumber. Film yang diproduksi oleh Universal Studio ini juga mengajarkan
untuk tidak tergesa-gesa dalam mempublikasikan berita jika belum memastikan
data-datanya kredibel.
Satu hal yang
terpenting adalah, film ini mengingatkan untuk menjadi jurnalis yang
independen. Tidak peduli siapapun yang berusaha memengaruhi, namun fakta tetap
fakta. Kebenaran harus tetap diungkapkan kepada publik dan itu merupakan
tanggung jawab jurnalis untuk menyampaikan apa yang tidak dapat dijangkau oleh
masyarakat
2.




Niceee
ReplyDelete